Lewati ke konten utama
Logo MAN IC Tapsel

MAN IC Tapsel Jadi Ruang Strategis Kajian Nasional, Dorong Akses Digital untuk Pemulihan Pendidikan Pascabencana

MAN IC Tapsel Jadi Ruang Strategis Kajian Nasional, Dorong Akses Digital untuk Pemulihan Pendidikan Pascabencana
17 Sep 2026 ictapsel@gmail.com Program

Tapanuli Selatan (Humas) — MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan mengambil peran strategis dalam pembahasan pemulihan pendidikan pascabencana melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Peran Akses Digital terhadap Pemulihan Pendidikan Pascabencana, Rabu, 16 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di MAN IC Tapanuli Selatan ini diinisiasi oleh Badan Akses Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital RI bekerja sama dengan Institut Bisnis Indonesia Kosgoro 1957, sebagai bagian dari kajian berbasis eviden mengenai kontribusi akses digital dalam mempercepat pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana.



Bagi MAN IC Tapanuli Selatan, keterlibatan dalam forum tersebut tidak sebatas sebagai lokasi penyelenggaraan. Madrasah hadir sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang memberikan perspektif lapangan mengenai kebutuhan keberlanjutan proses belajar ketika terjadi kondisi darurat. Pengalaman institusi pendidikan dalam mengelola pembelajaran, komunikasi, informasi, serta pemanfaatan teknologi menjadi masukan penting bagi penyusunan rekomendasi yang diharapkan lebih dekat dengan kebutuhan nyata satuan pendidikan.



FGD mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Tapanuli Selatan, mulai dari Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, MAS Abu Bakar Siddik, MAS KHA Dahlan, hingga MA Negeri 2 Plus Sipirok. Komposisi peserta lintas sektor tersebut mempertemukan perspektif teknologi informasi, kebencanaan, kebijakan pendidikan, dan pengalaman satuan pendidikan dalam satu ruang diskusi.



Dalam kerangka kajian BAKTI Komdigi, akses digital dipandang memiliki fungsi yang semakin penting ketika fasilitas pendidikan belum sepenuhnya pulih pascabencana. Konektivitas internet, platform pembelajaran daring, sistem informasi pendidikan, serta perangkat teknologi komunikasi dapat menjadi sarana untuk menjaga keberlangsungan pembelajaran, mendistribusikan materi, memperkuat koordinasi antara guru, murid dan orang tua, sekaligus mempercepat pertukaran informasi di tengah situasi kedaruratan.



MAN IC Tapanuli Selatan mendorong agar transformasi digital pendidikan tidak hanya dipahami sebagai penyediaan jaringan internet dan perangkat, tetapi juga sebagai pembangunan ketahanan sistem pendidikan. Akses digital yang tersedia perlu didukung kemampuan institusi, kesiapan guru dan murid, pengelolaan data, pola komunikasi yang cepat, serta sistem pembelajaran yang tetap dapat berfungsi ketika aktivitas pendidikan secara normal mengalami gangguan akibat bencana.

Kontribusi madrasah dalam pembahasan ini menjadi relevan karena kajian yang dilakukan tidak berhenti pada persoalan infrastruktur fisik.



Salah satu perhatian penting adalah bagaimana mengukur efektivitas akses digital terhadap percepatan pemulihan capaian belajar serta bagaimana intervensi digital dapat dirancang secara inklusif dan tepat sasaran. Perspektif dari satuan pendidikan diharapkan membantu menjembatani antara rancangan kebijakan di tingkat pusat dengan kebutuhan operasional yang benar-benar dihadapi sekolah dan madrasah di daerah.



Kajian tersebut selanjutnya diarahkan menghasilkan sejumlah keluaran strategis, antara lain studi literatur dan penyusunan Indeks Pemulihan Pendidikan Pascabencana (IPPB), indikator final pemulihan pendidikan, data kuantitatif dan kualitatif, analisis peran digital dalam percepatan pemulihan, modul pemulihan kegiatan belajar mengajar pascabencana, hingga executive summary hasil kegiatan. 



Melalui keterlibatan aktif dalam forum ini, MAN IC Tapanuli Selatan turut menjadi bagian dari upaya membangun basis pengetahuan yang dapat digunakan untuk merancang respons pendidikan pascabencana yang lebih terukur dan berkelanjutan.



Keterlibatan MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan sekaligus menegaskan bahwa madrasah dapat mengambil posisi lebih luas dari sekadar penyelenggara pembelajaran. Madrasah dapat menjadi ruang kolaborasi, sumber pengalaman lapangan, sekaligus mitra strategis dalam perumusan kebijakan publik pendidikan. Dari Sipirok, kontribusi itu diarahkan pada satu tujuan yang lebih besar: memastikan ketika bencana mengganggu ruang kelas, akses terhadap pendidikan tidak ikut terputus, dan teknologi benar-benar hadir sebagai jembatan agar proses belajar dapat kembali pulih lebih cepat.


Bagikan:
Chat Kami