Lewati ke konten utama
Logo MAN IC Tapsel

Laksanakan Uji publik riset, Murid MAN IC Tapsel Uji Gagasan “Biochar” Bersama Warga Situmba Julu

Laksanakan Uji publik riset, Murid MAN IC Tapsel Uji Gagasan “Biochar” Bersama Warga Situmba Julu
03 Sep 2026 ictapsel@gmail.com Program

Sipirok — Riset biasanya identik dengan laboratorium, laporan, angka, dan ruang presentasi. Namun murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan memilih jalan berbeda. Hasil riset mereka dibawa keluar dari lingkungan madrasah, dipertemukan langsung dengan masyarakat, lalu diuji gagasan dan relevansinya melalui kegiatan Uji Publik Tapsel Biochar Movement bersama warga Desa Situmba Julu. (03/09/2026)



Mengangkat tema “Gerakan Desa Karbon Positif: Mengembalikan Karbon ke Tanah, Stop Bakar! Mulai Subur!”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan yang dikembangkan murid dengan pengalaman nyata masyarakat yang sehari-hari bersentuhan dengan tanah, pertanian, dan pengelolaan limbah organik.



Gagasan utama yang diperkenalkan adalah pemanfaatan limbah pertanian melalui biochar, yakni mengolah bahan organik menjadi material yang dapat dikembalikan ke tanah untuk mendukung kesuburan dan pengelolaan karbon. Melalui gerakan tersebut, murid mengajak masyarakat melihat sisa pertanian bukan semata-mata sebagai limbah yang harus dibuang atau dibakar, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat diolah dan memberikan manfaat.



Dalam sesi uji publik, murid menjelaskan gagasan riset dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dialog berkembang dari persoalan sederhana seperti kebiasaan membakar limbah pertanian, manfaat biochar bagi tanah dan tanaman, hingga peluang perubahan kebiasaan masyarakat menuju pengelolaan limbah yang lebih produktif dan ramah lingkungan.



Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian persiapan dan penguatan riset murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam mengikuti Sobat Competition. Melalui uji publik ini, tim tidak hanya mematangkan karya dari sisi konsep dan substansi ilmiah, tetapi juga menguji sejauh mana gagasan yang mereka tawarkan dapat dipahami, diterima, dan memiliki relevansi bagi masyarakat. Tim murid yang terlibat terdiri atas Sahira Latifah, Nazwa Amelia Pospos, dan Atika Aufa Pracha, M. Maulana Siregar dab Rofiqoh Adzkia Dalimunthe dengan pendampingan Mis Ariska Aj Rambe sebagai guru pendamping. Sahira Latifah dan Nazwa Amelia Pospos mengambil peran dalam penyampaian substansi Tapsel Biochar Movement, sementara Atika Aufa Pracha dan Rofiqoh Adzkia turut mengawal jalannya komunikasi kegiatan bersama masyarakat dan M. Maulana Siregar sebagai kordinator rangkaian kegiatan.



Kegiatan ini dihadiri unsur Pemerintah Desa Situmba Julu, di antaranya Sekretaris Desa Situmba Julu, Irsan Sitompul, Kepala Dusun, Ibu serta masyarakat setempat. Dari MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, kegiatan tersebut dihadiri WKM Humas Said Hasan Assegaf Rambe mewakili Kepala Madrasah serta guru pendamping Mis Ariska Aj Rambe.



Sekretaris Desa Situmba Julu, Irsan Sitompul, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang dilakukan para murid. Menurutnya, kegiatan seperti ini memberikan nilai tambah karena pengetahuan yang dibawa berkaitan langsung dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Kami menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan ini. Bagi masyarakat, pengetahuan seperti ini sangat bermanfaat karena berkaitan langsung dengan tanah, pertanian, dan kebiasaan sehari-hari. Kami juga bangga para murid mau turun langsung bertemu masyarakat, menjelaskan hasil pemikirannya, sekaligus mendengar pengalaman warga,” ujarnya.



Mewakili pihak madrasah, Said Hasan Assegaf Rambe menyampaikan terima kasih atas keterbukaan Pemerintah Desa dan warga Situmba Julu yang bersedia menjadi bagian dari proses uji publik tersebut.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa dan seluruh warga Situmba Julu yang telah bersedia menerima murid-murid kami, berdialog, memberikan respons, bahkan menjadi bagian dari proses uji publik penelitian ini. Bagi madrasah, ini sangat berharga. Murid belajar bahwa ilmu yang baik bukan hanya dipahami, tetapi harus mampu hadir, didengar, diuji, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.



Sementara itu, guru pendamping Mis Ariska Aj Rambe menekankan bahwa riset murid perlu dibawa keluar dari ruang kelas agar memiliki makna yang lebih nyata.

“Kami ingin murid memahami bahwa riset bukan hanya tentang memenangkan lomba. Ketika sebuah gagasan bisa dibawa keluar dari ruang kelas, didiskusikan dengan warga, lalu menawarkan solusi bagi persoalan di sekitar mereka, di situlah riset mulai memiliki kehidupan,” ungkap Mis Ariska Aj Rambe.



Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Murid tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga belajar berkomunikasi, mendengar kritik, menjelaskan gagasan secara sederhana, serta mempertanggungjawabkan ide yang mereka tawarkan.



Menariknya, Tapsel Biochar Movement tidak berhenti pada persoalan bagaimana membuat biochar. Gerakan ini membawa pesan perubahan perilaku: dari membakar menjadi memanfaatkan, dari membuang menjadi mengolah, dan dari melihat limbah sebagai masalah menjadi melihatnya sebagai sumber daya.



Melalui kegiatan ini, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan terus mendorong budaya riset yang tidak berjarak dengan kehidupan masyarakat. Desa tidak hanya ditempatkan sebagai lokasi penelitian, tetapi sebagai ruang belajar, ruang validasi, sekaligus mitra pengetahuan bagi murid.



Karena pada akhirnya, ukuran penting sebuah riset bukan hanya seberapa baik ia dipresentasikan di depan dewan juri, tetapi juga seberapa jauh ia mampu berbicara kepada masyarakat yang menjadi tempat ilmu itu kelak bekerja.

Dari Situmba Julu, sebuah pesan sederhana itu digaungkan: Stop Bakar, Mulai Subur.



Bagikan:
Chat Kami