Lewati ke konten utama
Logo MAN IC Tapsel

Dari Jejak Bung Hatta ke Ruang OSIM: Dua Murid MAN IC Tapsel Pulang Membawa Cara Baru Memimpin

Dari Jejak Bung Hatta ke Ruang OSIM: Dua Murid MAN IC Tapsel Pulang Membawa Cara Baru Memimpin
26 Aug 2026 ictapsel@gmail.com Prestasi

Padang — Kepemimpinan tidak selalu tumbuh dari podium, jabatan, atau ruang rapat. Terkadang, ia lahir ketika seorang pelajar belajar mengenali dirinya, mendengarkan orang lain, membaca persoalan sosial, lalu berjalan menyusuri jejak para tokoh bangsa.


Pengalaman itulah yang dibawa pulang dua murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Fauzi Syarif Harahap dan Arie Farhan Lubis, setelah menjadi bagian dari 100 Ketua OSIS/MPK Terbaik se-Indonesia dalam Indonesian Student Leadership Training (ISLT) 2026 yang berlangsung di Sumatera Barat pada 11–18 Agustus 2026.


Keikutsertaan keduanya menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang melampaui teori. Selama delapan hari, para peserta dipertemukan dengan gagasan, pengalaman lapangan, sejarah kebangsaan, serta forum pertukaran pemikiran bersama pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.


Rangkaian ISLT 2026 diawali pada 11 Agustus dengan kedatangan peserta, welcoming dinner, serta sesi inspiratif bersama sejumlah tokoh. Selanjutnya, peserta mengikuti kontrak belajar, orientasi program, serta berbagai sesi pengembangan kapasitas kepemimpinan.


Salah satu materi yang menjadi warna kuat dalam kegiatan tersebut adalah “Bung Hatta dan Seni Menjadi Negarawan.” Dari materi ini, peserta diajak memahami kepemimpinan bukan hanya sebagai kemampuan mengarahkan orang lain, tetapi sebagai keberanian menjaga nilai, integritas, kesederhanaan, serta keberpihakan terhadap kepentingan bersama.


Materi lainnya, seperti “Mengenal Diri, Menemukan Misi” dan “Pemimpin sebagai Agen Perubahan: Menjadi Manusia Berkualitas Entrepreneur”, memperkuat kesadaran bahwa kepemimpinan bermula dari kemampuan seseorang mengenali dirinya sendiri sebelum mengambil peran di tengah masyarakat.


Pembelajaran kemudian bergerak pada isu yang lebih luas. Peserta mendalami gagasan mengenai masyarakat kooperatif, empati sebagai fondasi kepemimpinan, kemampuan membaca persoalan sosial melalui pendekatan sistem, hingga design thinking bagi pemimpin muda.


Melalui sesi “Membangun Gerakan, Bukan Sekadar Program”, para peserta juga diajak keluar dari paradigma kegiatan organisasi yang hanya berorientasi pada agenda seremonial. Kepemimpinan didorong menjadi sebuah gerakan yang memiliki dampak, kesinambungan, dan kebermanfaatan nyata bagi lingkungan sekitarnya.


Belajar dari Ruang Pemerintahan hingga Jejak Para Negarawan


ISLT 2026 tidak hanya berlangsung di dalam ruang pembelajaran. Para peserta mendapatkan pengalaman langsung melalui kunjungan ke DPRD Sumatera Barat dan lingkungan pemerintahan Provinsi Sumatera Barat.


Pembelajaran kebangsaan semakin kuat ketika peserta menyusuri sejumlah tempat yang berkaitan dengan sejarah perjuangan dan pemikiran tokoh bangsa.


Dalam agenda perjalanan sejarah, peserta mengunjungi kawasan yang memiliki hubungan dengan Haji Agus Salim, Rohana Kudus, Sutan Sjahrir, Syekh Khatib Al-Minangkabawi, hingga jejak kehidupan Mohammad Hatta.


Perjalanan tersebut membawa peserta pada satu pesan penting: Indonesia tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang memiliki jabatan, tetapi oleh manusia-manusia yang mempunyai gagasan, keberanian moral, keteguhan prinsip, serta kesediaan mengabdikan diri untuk kepentingan yang lebih besar.


Di Bukittinggi, peserta juga memperoleh pengalaman sejarah melalui kunjungan ke sejumlah lokasi penting, termasuk kawasan yang berkaitan dengan Bung Hatta dan Lobang Jepang.


Pengalaman ini membuat pembelajaran kepemimpinan dalam ISLT menjadi lebih kontekstual. Sejarah tidak semata dibaca dari buku, tetapi dihadirkan langsung sebagai ruang refleksi bagi calon-calon pemimpin muda Indonesia.


Merayakan Kemerdekaan dengan Semangat Kepemimpinan


Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia turut menjadi bagian penting dalam perjalanan peserta ISLT 2026.


Pada 17 Agustus 2026, para peserta mengikuti rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan di Sumatera Barat. Momentum tersebut mempertemukan semangat kepemimpinan generasi muda dengan nilai perjuangan, nasionalisme, dan tanggung jawab menjaga masa depan Indonesia.


Bagi Fauzi Syarif Harahap, pengalaman mengikuti ISLT memberikan cara pandang baru tentang arti seorang pemimpin.


«“Saya mendapatkan banyak pembelajaran bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang bagaimana seseorang memimpin, tetapi juga tentang bagaimana kita mampu memahami diri, mendengarkan orang lain, melihat persoalan secara lebih luas, dan menghadirkan kontribusi yang memberikan manfaat.”»


Menurut Fauzi, perjumpaan dengan para ketua OSIS dan MPK dari berbagai wilayah Indonesia juga menjadi pengalaman yang berharga. Setiap peserta datang dengan karakter sekolah, lingkungan sosial, serta pengalaman organisasi yang berbeda.


Perbedaan tersebut justru menjadi ruang belajar untuk melihat bahwa persoalan organisasi tidak selalu dapat diselesaikan dengan satu pendekatan. Seorang pemimpin dituntut mampu mendengar, beradaptasi, membangun kolaborasi, sekaligus tetap memiliki prinsip.


Dari ISLT untuk MAN IC Tapsel


Sepulang dari Sumatera Barat, pengalaman ISLT tidak diharapkan berhenti sebagai catatan perjalanan atau sertifikat kegiatan.


Fauzi berharap berbagai wawasan yang diperoleh dapat ditransformasikan dalam kehidupan organisasi di MAN IC Tapanuli Selatan, khususnya melalui OSIM. Pengetahuan tersebut juga diharapkan dapat dibagikan kepada pengurus organisasi dan murid lainnya sehingga tumbuh budaya kepemimpinan yang semakin kolaboratif, responsif, dan berorientasi pada kebermanfaatan.


Semangat “membangun gerakan, bukan sekadar program” menjadi salah satu gagasan yang relevan untuk dikembangkan dalam organisasi murid. Setiap program tidak hanya dituntut selesai dilaksanakan, tetapi juga perlu memiliki tujuan, kesinambungan, serta dampak yang dapat dirasakan warga madrasah.


Keikutsertaan Fauzi Syarif Harahap dan Arie Farhan Lubis dalam ISLT 2026 juga menjadi bagian dari komitmen MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam memberikan ruang seluas-luasnya bagi murid untuk mengembangkan potensi akademik, organisasi, karakter, dan kepemimpinan.


Prestasi tersebut tidak terlepas dari dukungan keluarga besar MAN IC Tapanuli Selatan, mulai dari Kepala Madrasah, jajaran Wakil Kepala Madrasah, Pembina OSIM, tenaga pendidik dan kependidikan, pengurus OSIM, hingga seluruh murid.


Lebih dari sekadar menjadi bagian dari 100 Ketua OSIS/MPK terbaik se-Indonesia, perjalanan ini membawa pesan yang lebih besar: pemimpin muda tidak cukup hanya pandai berbicara tentang perubahan. Ia harus mampu mengenali persoalan, membangun gagasan, menggerakkan orang lain, dan menghadirkan manfaat.


Dari Padang, Bukittinggi, ruang pemerintahan, hingga jejak Bung Hatta dan para tokoh bangsa, Fauzi dan Arie pulang membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar pengalaman perjalanan—sebuah cara baru memandang kepemimpinan.


Dan dari MAN IC Tapanuli Selatan, perjalanan itu baru saja dimulai.


Bagikan:
Chat Kami