Lompat ke konten
081397434974

Takjil Quo Vadis Kerukunan (Diskursus etalase platform Tiktok)

Oleh : Said Hasan Assegaf Rambe, M.Ag (Guru Al-Quran Hadis MAN IC Tapsel)

Arah percapakan warga negara kini semakin bervariatif, kadang-kadang percakapan tersebut disetir oleh basis masyarakan(citizenship/civil society) yang banyak menggunanakan platform digital. Platform digital yang tersedia kini juga mempunyai basis pengguna masing-masing, ada yg sifatnya dominan dan ada juga yang universal
/general dan hampir seluruh segementasi masyarakt sekarang menggunakannya.

Tiktok merupakan salah satu platform media sosial yang tersedia, legal dan dapat digunakan oleh banyak orang di Indonesia. Konten/kreatifitas seseorang dapat lebih mudah mendapatkan atensi, sebab pada sistem yang diusung tiktok menyediakan apa yang disebut dengan sistem algoritma mesin pencarian, FYP (for your page) sehingga dapat menjangkau semua segmen pengguna lintas umur dan genre konten yang diusung.

Kemudahan inilah yang membuat siapapun, dan diskursus apapun yang menjadi perbincangan nasional maupun lokal dapat menjamur secara masif dan dapat diterima hanya dengan berbaring, berleha-leha dan bersantai sambil scroll tarik atas layar gadget kita ketika menunggu berbuka yang tidak kunjung tiba, sebab scroll tiktok dilakukan pasca imsak.

Takjil merupakan identitas penting Ramadhan, pengertian Takjil dapat dilihat pada artikel sebelumnya di website ini. Takjil pada Ramadhan sebelumnya mungkin hanya sebatas budaya yang setiap bulan Puasa baru sunter menjadi perbincangan di masrarakat. Takjil memang menjadikan vibes (baca:atmosfer) Ramadhan jadi pembeda dengan bulan-bulan yang lain. Takjil menghadirkan warna warni makanan, minuman, bubur, kue yang beraneka ragam, bahkan ada makanan/Takjil yang hanya ada muncul di bulan Ramadhan, dan sangat sulit menemukannya di bulan-bulan lain, seperti makanan/kue lokal masyarakat tertentu. Hal tersebut mengantarkan kita kembali ke zaman waktu kecil ketika Ramadhan

Ada apa dengan Takjil Ramadhan 1445 H kali ini?

Menjawab pertanyaan diatas akan lebih relate (baca: nyambung) dengan kita yang sering menggunakann platform Tiktok misalnya. Di tiktok sendiri Takjil sedang ramai diperbincangkan oleh semua elemen warganegara, tidak hanya dengan orang yang menjalankan ibadah puasa atau muslim, bahkan dengan saudara-saudara kita sesama warga negara/lintas agama. Sesama warga negara mendapatkan maanfaat yang sama terhadap menjamurnya Takjil di seluruh pelosok negeri. Ibarat Teori sederhana mengenai Supply and Demand, sekarang ketersediaan Takjil semakin menipis, karena keterbutuhan warganegara terhadap Takjil semakin meningkat namun ketersediaan Takjil cukup terbatas. Keadaan pasar yang seprti ini memunculkan ragam perbincangan di dunia dunia maya, khususnya paltform tiktok.

Mari kita rangkum sedikit perbincangan tersebut lewat content trend dan kolom komentar :
Orang berpuasa ;
– “mereka beli takjil jam 14.00, disaat orang yang berpuasa sedang koma”
– “permohonan ke menteri Agama, untuk mengeluarkan edaran, berburu takjil dimulai pukul 17.00 wib”
– “sebagai gantinya takjil yang sudah direbut, nanti pastornya kami umpatin pas hari Pascah”
– “syarat pembelian takjil; berkerudung, membawa identitas KTP dan membaca syahadat”
– “waktu Natal pohon natal kita borong semua. Biar mereka pakai pohon ketapang” dan lain-lain.

Bukan berpuasa/Nonis (Non Islam)
– “untukkmu Agamamu, untukku Takjilmu”
– “Tuhan Yesus, aku menabung setahun hanya untuk menikmati Takjil, dan menghabiskannya selama bulan Ramdhan”
– “aku balik kerja, sebelum pulang sudah di notice untuk belik takjil, dengan semangat sampai rumah mengatakan, mari kita berbuka, padahal kita satu rumah katolik dan heboh menyambut takjilku”
– “pas mau belik takjil, si ibu ngomong, sudah habis neng diburuh sama orang cina, ternyata sainganku bukan islam saja”
– “dengar-dengar info, di masjid Takjilnya gratis” dan lain-lain.

Percakapan diatas, hanya sebagaian kecil yang dapat kita temukan di konten-konten takjil dan nonis, lantas apa yang menarik?

Takjil Sebagai Instrumen Kerukunan

Dengan hadirnya Takjil, dapat menjadi instrumen pemersatu warganegara, masing-masing warga negara lintas agama saling mengemas perbincangan terkait takjil dengan jenaka, penuh dengan kerukunan dan toleransi, meskipun kadang diksi-diksi yang disampaikan memakai diksi agama (potensial perpecahan), tetapi sesama warganegara hampir tidak ditemukan sesama penganut agama, yang menyampaikan protes, atau tidak senang, melainkan semua memaknainya sebagai kematangan dan keharmonisan sesama warga negara.

Berbeda halnya, kerendahan hati umat beragam ini mungkin belum dijumpai dengan  positif, ketika momen kontestasi politik pilpres bulan lalu, saat masih ada kooptasi terhadap “anak abah” atau “anak jendral” yang masih memiliki sentimensi negatif yang tidak mengedepankan kerukanan sesama warganegara

Fenomena diatas tidak dianggap sebagai yang berlebihan, namun dimaknai dengan kecerdasan dan kematangan warganegara dalam memaknai fenomena dan budaya agama ditengah kemajemukan yang ada. Perbedaan sebuah keniscayaan lantas tidak mungkin selamanya warga negara saling termarjinalkan, dan tidak bisa memasuki batas budaya agama atau etnik sesama warganegara.
Percakapan hangat penuh dengan harmoni tersebut muncul tidak by design, namun itu muncul secara organik dari akumulasi kecakapan dan kematangan berpikir dan bertindak warganegara dalam menyikapi problematika dan perbedaan yang ada di Indonesia, sehingga manifestasi tersebut hadir dalam bentuk percakapan yang jenaka dan hangat, sehingga siapapun orangnya yang mencintai keadamaian sebagai ajaran universal, akan merasakan hal sama, larut dalam harmoni sesama umat beragama dan warganegara.

Moderasi Beragam sudah mulai mencapi Tujuannya.

Salah satu tujuan MB adalah Kerukunan, kerukunan pun sudah memiliki dimensi nyata dan maya, Kerukunan yang menjadi objek juga harus merambat pada maya, fenomena diatas juga bisa menjadi objek sentral untuk menghadirkan kerukunan, karena cakupannya yang mungkin saja bisa tidak bisa terbatas, menjadikan maya menjadi niscaya untuk menjaga dan merawat harmoni. Dengan seperti itu, Indonesia akan mencapai kematangan Universalnya terhadap kerukunan umat beargama hari ini dan hari esok, khusunya pada menggapai bonus demografi 2045 nanti. Amin

Wallahu a’lam bissawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *