Banner
Info Sekolah
Login Member
Username:
Password :
Agenda
19 November 2017
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Jajak Pendapat
Bermanfaatkah Website sekolah bagi anda
Ragu-ragu
Tidak
Ya
  Lihat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

PERBEDAAN ADALAH RAHMAT; BERAGAMA DALAM KEBERAGAMAN

Tanggal : 02-11-2017 08:47, dibaca 11 kali.


I. Taqdim

            “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam adalah tanda bagi orang yang punya ‘otak’ (yang menggunakannya untuk berfikir)”(Q.S.2:190). “Kami jadikan manusia itu bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling mengenal satu sama lain”(Q.S. 49: 13). Demikianlah firman Allah tentang sebuah perbedaan, dan masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang hikmah dari keberagaman dan variasi kehidupan.

            Keberagaman dan perbedaan bagi orang yang otoriter dan ‘orang zaman dahulu’ adalah suatu awal dari kehancuran dan konflik, namun tidak bagi manusia yang modern dan progressif. Justru hal tersebut adalah suatu awal kemajuan dan perkembangan bagi manusia-manusia yang berakal. Kemajuan yang dilandasi dengan sebuah perbedaan akan lebih kuat dan solid jika dibanding dengan kemajuan yang dilandasi persamaan yang akan cenderung menuju statis dan monoton.

            Perbedaan yang dianggap sebagai pemicu suatu kehancuran, namun jika dianalisis dan dimenej dengan bagus akan menjadi suatu kekuatan yang besar yang takkan terkalahkan. Hal ini sering disebut dengan ‘Management of Conflict’. Dengan demikian akan lahir satu kubu oposan yang mengevaluasi kinerja pihak lain sekaligus menjadi kubu penengah (ummatan wasatan) sebagai tim pendingin dan manejerial suatu konflik. Bukankah Nabi Muhammad juga sebagai oposan dan penengah atas konflik yang terjadi pada suku Arab?.

 

II. Perbedaan Adalah Rahmat

            ‘Ikhtilaafu Ummati Rahmah(perbedaan adalah rahmat), itulah hadis yang sudah masyhur di telinga kaum muslimin. Terlepas dari sahih dhaifnya hadis ini, namun jika ditinjau dari konten hadis memang sangat faktual dan logis. Hal ini dilihat dari penggunaan kata ‘ikhtilaaf’ yang bermakna perbedaan namun lebih cenderung kepada perbedaan cara pandang dan wawasan bukan dengan kata “nizaa’’ yang bermakna berselisih yang lebih cenderung kepada permusuhan. Dengan demikian, semakin banyak ikhtilaaf dalam sesuatu hal maka akan semakin luas cara pandang dan wawasan orang yang mengkajinya.

Jika diilustrasikan ikhtilaaf (perbedaan) dalam warna lukisan, maka sekiranya sebuah lukisan berwarna putih semua, atau hijau semua apakah akan tampak keindahan ?. Tangan yang beranggotakan lima jari dan berbeda bentuk dan panjang, apakah kelima jari saling menyalahkan?. Bagaimanakah bunyi petikan suara gitar jikalau semua jenis talinya sama?. Betapa indahnya jika suatu perbedaan berkolaborasi dan berkoordinasi.

            Secara historis, perbedaan yang diikuti saling mencela dan menyalahkan sudah terjadi dalam sejarah Islam. Ali ibn Abi Talib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan (radhiayallahu’anhuma) keduanya adalah sahabat nabi yang harus adu otot karena saling mengkafirkan satu sama lain. Kekuatan yang sudah lama dihimpun pecah seketika, tiada lagi persaudaraan, yang ada hanya pembenaran diri sendiri dan penyalahan orang lain dan diberi derajat ‘kafir’ serta halal darahnya. Ini merupakan pelajaran berharga bagi kaum muslim sesudah mereka termasuk kita sebagaimana firman Allah “hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah  lewat  sebagai tolok ukur untuk hari esok” (Q.S.59: 18)

            Pelajaran yang harus diperhatikan dalam perbedaan adalah perbedaan yang ditempuh oleh ulama mazahib arba’ah (mazhab yang empat). Perbedaan yang mereka utarakan bukanlah suatu perpecahan tetapi suatu kesepakatan dalam perbedaan, sepakat walau tidak sependapat yang berbias pada rasa toleransi yang tinggi. Mazhab apapun yang dianut oleh kaum muslimin, para pendiri mazhab tidak akan pernah mencela apalagi menyalahkan.

            Mengapa terjadi perbedaan pandangan dalam Islam padahal bersumber pada rujukan yang sama?. Di sinilah kemukjizatan al-Quran dengan unsur balagah (stilistik), struktur kalimat (morfologi) dan Nahwu (sintaksis) yang ada di dalamnya. Al-Quran tidaklah statis dan jumud, satu kata dan kalimat dapat ditinjau dari berbagai aspek keilmuan. Dengan demikian, jelas akan berbeda penafsiran Zamakhsyari dalam ‘al-Kassyaf’ dengan Ibn Katsir dalam ‘Tafsir al-Quran al-‘Azim’. Tentu akan berbeda pula penafsiran Buya Hamka dengan penafsiran Quraish Shihab dalam tafsirnya ‘al-Misbah’. Semua penafsiran  hanyalah sarana mendekati kebenaran dan bukan suatu kebenaran yang mutlak. Diferensiasi ini terjadi sesuai dengan perkembangan faktor bahasa dan ilmu pengetahuan manusia. Namun apakah para mufassir kontemporer menyalahkan para pendahulu mereka? Tidak. Namun penafsiran terdahulu merupakan landasan awal dalam mewujudkan penafsiran yang kontemporer, aktual dan akseptebel bagi manusia masa kini.

 

III. Kultus Dalam Perbedaan

            Bagi insan yang sulit menerima perbedaan dan perubahan suatu kebiasaan akan mengultuskan seseorang seseorang yang berbeda dengannya dengan memberikan label yang bermacam-macam seperti, liberal, kafir, murtad, ortodok dan lain sebagainya. Perbuatan yang demikian ini adalah perbutan tanpa dasar pemikiran yang luas dan pertimbangan mengapa orang lain tersebut menyatakan pendapat yang berbeda. Apakah mobil “kodok” yang dulu dianggap mewah akan terus dianggap mewah hingga sekarang ?. Apakah mobil mewah seperti BMW, Marcedes Benz tidak layak pakai sekarang hanya karena mobil ‘kodok’?.Untuk itu perlu kehati-hatian dalam mengkultuskan seseorang dengan istilah dan label yang tidak mendasar, bisa jadi apa yang dikatakan olehnya merupakan sebuah kebenaran di kemudian hari dan orang yang mengkultuskan tersebut mau tidak mau harus menjilat ludah yang sudah dibuangnya.

            Hal ini sudah banyak terjadi pada zaman dahulu. Galileo Galilei harus pasrah dengan hukuman mati karena pendapatnya yang tidak sesuai dengan dewan gereja (ulama jika diibaratkan dalam Islam) pada saat itu. Ilmuwan ini menyatakan bahwa bumi mengitari matahari, namun dewan gereja yang menyatakan sebaliknya menolak dan menyatakan bahwa Gelileo melanggar aturan yang berlaku dan harus dihukum mati. Pada saat sekarang ini pendapat siapakah yang benar?. Apakah dewan mampu menghapus kata-kata yang sudah terucapkan?. Bukankah akan timbul rasa bersalah dan berdosa seumur hidup dengan tindakan yang begitu gegabah?.

            Dalam kemajuan pemikiran Islam banyak pernyataan-pernyataan yang secara zahir menentang syariat Agama Islam namun secara batin, justru sangat mendukung berlangsungnya maqasid syariah. Contohnya, pernyataan bahwa Shalat bukanlah suatu kewajiban seorang muslim. Secara zahir ini sangat bertentangan dengan nash syar’i, namun secara batin memang salat bukanlah suatu kewajiban, namun suatu kebutuhan setiap hamba. Barang siapa yang butuh untuk berkomunikasi dengan Tuhannya maka hendaklah ia salat.

            Pernyataan ‘salat bukan suatu kewajiban’ secara implisit tidaklah menyalahi nash syar’i namun audiens pernyataan inilah yang belum mampu memahami makna ‘sense’ yang tersirat dalam ungkapan tersebut. Jika menggunakan kata ‘wajib’ maka terkandung di dalamnya kata ‘pemaksaan’, namun jika menggunakan kata ‘kebutuhan’ maka terkandung di dalamnya makna ‘kesadaran dan keikhlasan’. Dengan demikian, jelas lebih tinggi kualitas penggunaan kata ‘kebutuhan’ di banding ‘kewajiban’

            Banyak lagi contoh-contoh pernyataan-pernyataan para ulama yang tampaknya menyalahi yuriprudensi Islam padahal pernyataan tersebut merupakan hasil dari dalamnya pemahaman mereka atas teks-teks hukum syar’i dalam Islam.

Demikian juga halnya yang terjadi pada teolog (mutakallim) Indonesia alm. Prof. Dr. Harun Nasution dan generasinya alm. Prof. Dr. Nurcholis Madjid dan bahkan pakar tafsir Prof. Dr. Quraish Syihab yang dinyatakan ‘nyeleneh’ dengan pemikiran mereka yang kontraversial. Namun akal yang terus berkembang dan mudah-mudahan pada akhirnya akan menerima pemikiran mereka dengan alasan dan argumen ilmiah serta tetap berlandaskan al-Quran dan sunnah.

Mengapa hal ini terjadi?. Hal ini disebabkan oleh akal manusia zaman dahulu belum semaju akal manusia sekarang dan cenderung mempertahankan tradisi lama serta menolak pembaharuan padahal ada ungkapan yang menyatakan ‘almuhafazatu ‘ala al-Qadiimi saliih, wa al-akhzu bi al-jadiidi ashlah’ (Menjaga tradisi lama itu baik dan membuat suatu pembaharuan itu lebih baik lagi).

            Pembaharuan dalam Islam adalah satu di antara pemicu perbedaan antara ulama salaf (tradisional) dan khalaf (kontemporer). Walau banyak kalangan menolak pembaharuan dalam Islam tetapi mereka tidak dapat menolak untuk mengakui bahwa tokoh-tokoh seperti Muhammad Iqbal, Jamaluddin al-Afgani,Muhammad Abduh adalah pembaharu dan reformis perkembangan pemikiran dalam Islam.

 

III. Takhtim

            Perbedaan adalah hukum alam (sunnatullah) yang tidak dapat dihindari. Pemikiran manusia berbeda satu sama lain, dengan demikian hasil analisis juga akan berbeda pula.

            Perbedaan hasil pemikiran adalah satu berkah bagi yang berakal. Dengan perbedaan ini ia akan mencari alasan yang menjadi dasar perbedaan dalam pendapat. Jika tidak mampu untuk mencari alasan tersebut harus mengakui bahwa pemikirannya belum sampai pada level yang demikian. Jika masih ada rasa penasaran dan kurang puas seyogyanya untuk bertanya kepada orang yang menyatakan perbedaan tersebut. Bukanlah tindakan islami jika perbedaan dalam hal pemikiran harus dilanjutkan dengan pelabelan diri orang lain dengan istilah-istilah yang negatif dan sakral.

            Dengan naluri ‘rasa ingin tahu’, manusia-manusia berakal akan selalu mengaplikasikan firman Allah yang pertama ‘Iqra’. Bukan hanya Iqra ketika sekolah atau kuliah tetapi tetap Iqra walau kain kafan sudah menyelimuti badan. Dengan demikian tidak mustahil Islam akan menginjak zaman keemasannya seperti dahulu lagi. Tetapi jika dengan mempertahankan ‘Iqra’ dahulu dan menyalahkan ‘Iqra’ yang sekarang, maka Islam akan kembali pada zaman statis dan tidak berkembang sehingga Islam akan dibaratkan buih di lautan. Al-Islamu Mahjubun bil Muslimin (Islam itu akan tertutup dan terkekang oleh penganut Islam itu sendiri) demikian kata Sayyid Muhammad Abduh, Benarkah demikian ?.

 

 



Pengirim : Syairhan
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas